Jawaban SKU Siaga Tata Nomor 17: Ayo Belajar Menghormati Adat dan Budaya Kita
Salam Pramuka, Ayah, Bunda, Kakak Pembina, dan Adik-adik Siaga yang hebat! Kembali lagi bersama Yanda di blog Pramuka Iman. Saat Yanda menguji adik-adik Siaga di SDIT Insan Madani, ada satu poin SKU yang seringkali membuat anak-anak bingung, yaitu SKU Siaga Tata Nomor 17 tentang "Dapat menyebutkan akibat melanggar adat/budaya di lingkungannya".
Kadang anak-anak bertanya, "Yanda, kenapa kita tidak boleh buang sampah sembarangan di sendang (mata air) desa?" atau "Kenapa kalau lewat depan orang tua harus permisi?". Nah, materi ini sangat penting untuk membentuk karakter sopan santun dan cinta tanah air sejak dini. Jangan khawatir, Yanda akan jelaskan dengan bahasa yang mudah agar materi di halaman Buku SKU Siaga Tata ini makin dipahami.
Apa Itu Peraturan Adat dan Budaya Lingkungan?
Coba bayangkan kalau Adik-adik sedang bermain permainan, pasti ada aturan mainnya, kan? Supaya permainannya seru dan tidak ada yang bertengkar. Nah, adat dan budaya itu seperti "aturan main" yang dibuat oleh nenek moyang kita dan diikuti oleh orang-orang di kampung atau lingkungan kita.
Peraturan adat dan budaya adalah kebiasaan baik yang sudah lama dilakukan secara turun-temurun di suatu daerah. Aturan ini memberi tahu kita apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan, supaya hidup kita di masyarakat menjadi rukun, aman, dan damai.
Contohnya: Di beberapa tempat ada aturan tidak boleh berteriak keras saat magrib, harus menyapa tetangga, atau menjaga kebersihan tempat-tempat ibadah.
Akibat Jika Kita Melanggar Adat atau Budaya di Lingkungan
Peraturan adat dibuat untuk kebaikan bersama. Jika kita melanggarnya, artinya kita tidak menghormati nenek moyang dan orang-orang di sekitar kita. Untuk jawaban sku siaga tata nomor 17, Nanda bisa menyebutkan beberapa akibatnya sebagai berikut:
- Disenangi Tetangga: Kita akan ditegur, dimarahi, atau dinasihati oleh orang tua atau tokoh masyarakat karena dianggap tidak sopan.
- Merasa Malu: Kita akan merasa malu karena sudah melakukan hal yang salah dan menjadi pusat perhatian yang buruk.
- Dijauhi Teman: Teman-teman mungkin tidak mau bermain dengan kita karena kita dianggap tidak tahu aturan dan tidak menghargai mereka.
- Kualat/Mendapat Sanksi: Di beberapa daerah, ada kepercayaan akan mendapatkan kualat atau bahkan sanksi (hukuman) adat berupa denda atau harus meminta maaf secara resmi di depan warga.
- Hidup Menjadi Tidak Tenang: Karena merasa bersalah dan tidak disukai orang, hati kita menjadi tidak tenang.
Cara Yanda/Bunda Menguji Poin 17
Bagi rekan-rekan Pembina atau Ayah Bunda di rumah, poin ini bukan tentang hafalan mati. Saat saya menguji anak didik di SDIT Insan Madani, saya lebih suka menggunakan Metode Bercerita atau Studi Kasus.
Saya biasanya tidak bertanya langsung, "Sebutkan 3 akibat melanggar adat!". Itu terlalu kaku.
Tips saya saat menguji:
Yanda bertanya santai, "Nanda, di desa sebelah, ada sendang air yang bersih banget. Warga di sana bilang gak boleh buang kotoran apa saja di situ. Suatu hari ada anak yang buang sampah plastik di sendang itu. Kira-kira, apa yang terjadi sama anak itu ya? Dan apa yang terjadi sama desa itu?"
Biarkan anak berpikir. Mereka biasanya akan menjawab: "Dimarahi warga, Yanda!", "Airnya jadi kotor!", "Ikan-ikannya mati!", "Desanya jadi bau!". Nah, dari jawaban itu, anak sudah mengerti akibat melanggar adat budaya siaga tata. Tinggal kita simpulkan, "Nah, itu artinya kita kualat/mendapat sanksi dan tidak disukai orang lain."
Cara ini jauh lebih efektif membentuk karakter anak daripada sekadar menghafal. Selamat mencoba, Ayah Bunda! Salam Pramuka!







0 comments:
Posting Komentar